Kesengsaraan Rakyat Karena Riba dan Inflasi

Oleh: Muhaimin Iqbal*

Misery Index (Index Kesengsaraan) adalah indikator ekonomi yang diperkenalkan oleh Profesor Arthur Melvin Okun ekonom dari Yale University. Index ini awalnya sederhana saja, yaitu menjumlahkan antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran di suatu negara – dua hal yang mencerminkan biaya ekonomi dan sosial suatu negara.

Index ini kemudian diubah oleh Profesor Robert Joseph Barro dari Harvard University dengan menambahkan unsur tingkat bunga bank dan Gross Domestic Product (GDP) untuk melihat dinamika kesengsaraan masyarakat dari waktu ke waktu. Index yang sudah diubah ini kemudian disebut Modified Misery Index.

Di Amerika, Index ini dengan mudah dipakai untuk menilai secara kuantitatif, apakah seorang presiden bisa memakmurkan rakyat selama pemerintahannya atau sebaliknya. Ronald Reagan pada masa pemerintahannya yang pertama misalnya, tercatat sebagai presiden yang paling bisa memakmurkan rakyatnya (Index = – 4.90), sedangkan Jimmy Carter tercatat sebagai presiden yang paling menyengsarakan rakyatnya (index = + 9.40).

Untuk Indonesia, ekonom dunia yang secara khusus nampak punya ‘kepentingan’ di Indonesia adalah Prof . Steve H. Hank, yang di akhir masa pemerintahan Orde Baru 1998 dulu berbicara intensif dengan Presiden Indonesia waktu itu, dengan ide Currency Board Sistem-nya.

Dalam pengamatan dan data dua dasa warsa yang dikumpulkan oleh ekonom yang satu ini, rakyat Indonesia sampai sekarang masih sama sengsaranya dengan kondisi tahun 80-an dan 90-an. Memang kita pulih dari puncak krisis moneter yang terkenal dengan Krismon tahun 1998; tetapi kepulihan ini tidak membuat Indonesia lebih baik dari sebelum Krismon.

Grafik di atas yang merepresentasikan penjumlahan tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan tingkat pengangguran, kemudian dikurangi perubahan GDP year on year – menggambarkan tingkat kesengsaraan rakyat Indonesia dari waktu ke waktu. Semakin tinggi Index, semakin sengsara rakyat.

Teori Modified Misery Index ini sesungguhnya juga menggambarkan bahwa semakin tinggi tingkat bunga (riba) dan inflasi yang berlaku dalam suatu negara, semakin sengsara rakyat di negara tersebut. Sebaliknya semakin rendah tingkat suku bunga (riba) dan semakin rendah inflasi, maka akan semakin makmur rakyat di negara tersebut.

Jadi jelas bukan? Bahwa untuk memakmurkan rakyat, tingkat suku bunga (riba) harus ditekan serendah mungkin. Dan ini hanya bisa dilakukan bila suatu negeri meninggalkan riba.

Demikian pula halnya bahwa inflasi juga harus ditekan serendah mungkin, dan ini hanya bisa terjadi bila uang di suatu negara tidak mudah dicetak begitu saja – karena inflasi terjadi oleh sebab uang yang dicetak terus-menerus, tidak sepadan dengan transaksi riil yang memerlukan keberadaan uang tersebut.

Hanya uang emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang telah terbukti selama ribuan tahun tidak mengalami inflasi, karena Dinar maupun Dirham adalah uang dari benda riil – harus benar-benar ada emas untuk mencetak Dinar dan ada perak untuk mencetak Dirham.

Bila dua dari empat unsur dalam Modified Misery Index, yaitu tingkat bunga dan inflasi, sudah teratasi dengan ditinggalkannya riba dan digunakannya Dinar dan Dirham; maka tugas pemerintah tinggal dua saja untuk menciptakan kemakmuran, yaitu menciptakan lapangan kerja dan fokus pada pertumbuhan ekonomi (GDP).

Jadi diuji dari teori ekonomi mana pun, sistem Islam yang lahir dari petunjuk Yang Maha Tahu, terbukti paling sesuai dan mudah untuk menciptakan kemakmuran bagi umat sepanjang zaman. Masihkah kita meragukannya? Waallahu A’lam.

Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com dan Direktur www.geraidinar.com
Sumber : http://www.hidayatullah.com/read/10253/29/12/2009/kesengsaraan-rakyat-karena-riba-dan-inflasi.html, Selasa, 29 Desember 2009