Pengaruh Kesehatan Gigi pada Prestasi Belajar Anak

Berpenyakit jantung, penderitanya tak berarti harus membatasi aktivitas sehari-hari. Bahkan, mereka yang pernah menjalani operasi jantung pun masih tetap dianjurkan beraktivitas untuk mengoptimalkan kondisi kesehatannya. “Itu sebabnya pascaoperasi jantung pasien akan diikutkan dalam program fisioterapi,” kata dr Hariadi Hadibrata SpBTKV.

Kalau tidak fisioterapi, tindakan operasi jantung tidak ada gunanya. Pasien harus mengingat pemulihannya merupakan tindakan berkelanjutan. “Mereka harus tetap aktif, namun harus pandai memilah-milah kegiatan yang aman untuk kondisinya,” ujar Hariadi saat media gathering bertajuk “Living with Heart Disease” yang diadakan Bunda Heart Centre di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kembali beraktivitas keluar rumah pun tak ada larangannya. Demikian pula dengan berolahraga. Tentunya kegiatan fisik tersebut aman dilakukan selama masih masuk kategori low impact. Kendati merasa sehat, hindari ajakan untuk berolahraga high impact, seperti tenis, maraton, basket, dan sepak bola. “Kalau suka berenang, golf, atau jalan pagi, silakan saja,” kata dia.

Di samping mempertahankan gerak tubuh aktif, minum obat secara teratur juga termasuk bagian dari terapi. Minum obat secara teratur wajib bagi orang yang sudah menjalani operasi. “Mengingat ada benda asing yang masuk ke tubuh, seperti benang jahit atau katup, minum obat tak boleh disepelekan,” ucap Hariadi. Cek laboratorium pun harus dilakukan sesuai anjuran dokter.

Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Menurut WHO, diperkirakan ada 17,5 juta orang atau 31 persen dari total penduduk dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2012. Dari angka tersebut, 7,4 juta di antaranya merupakan kematian akibat penyakit jantung koroner dan 6,7 juta akibat stroke. Diperkirakan pada 2030, kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat menjadi lebih dari 23 juta jiwa. Sudahkah Anda menjaga kesehatan jantung? ed: reiny dwinanda

***
Mempertahankan Kesehatan Jantung

Orang yang memiliki penyakit jantung atau berisiko mengalami penyakit jantung bukan berarti tidak memiliki harapan. Kebanyakan penyakit kardiovaskular bisa dicegah dengan memodifikasi faktor risiko pemicu penyakit kardiovaskular. Caranya ialah dengan berhenti merokok, tak menjalankan diet tidak sehat, menghindari obesitas, tak minum alkohol, dan bergaya hidup aktif.

Dr Dicky Hanafy SpJP(K) mengatakan, penderita penyakit jantung yang berhasil bertahan berarti berhasil mengubah total gaya hidupnya. Mereka mampu menghindari faktor yang membuat penyakitnya bertambah berat atau kambuh. Pemulihan tentunya diawali dari rumah sakit. Umumnya, penderita serangan jantung akan menginap di rumah sakit selama tiga hari hingga sepekan pascaserangan jantung. Tetapi, jika ditemukan komplikasi, perawatannya bisa lebih lama.

Jantung sebagai pemompa darah berdenyut 60 hingga 80 kali per menit saat istirahat. Denyutnya menjadi 120 hingga160 kali per menit saat beraktivitas. Per hari, jantung berdetak hingga 100 ribu kali.

Otot pada jantung merupakan otot yang tidak pernah berhenti bekerja. Jantung mampu memompa darah lima liter per menit atau tujuh ribu liter per hari. Mengingat begitu beratnya kerja jantung, sudah sepantasnya kita menjaga kesehatannya.

Dicky menjelaskan, kondisi gagal jantung yang sering terjadi ialah akibat dari kemampuan pompa jantung yang tidak cukup. Pasien yang mengalami gagal jantung di RS Harapan Kita saja pada 2013 mencapai 1.239 orang. “Dari jumlah itu, setengahnya punya lemah jantung dan sisanya mengalaminya lantaran ketidakseimbangan gaya hidup,” ucap Dicky.

Penyebab gagal jantung beragam. Di antaranya tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, kardiomyopati, miokarditis, kelainan katup jantung, kelainan jantung bawaan, kelainan irama jantung, dan penyakit paru kronis. Ada beberapa gejala yang menunjukkan seseorang mengalami gagal jantung. Penderitanya akan merasa cepat lelah, terbangun dari tidur karena tiba-tiba sesak, sesak saat terlentang, sesak saat beraktivitas, bengkak tungkai bawah, berkurangnya selera makan, dan keluhan perut.

Ketua Yayasan Jantung Indonesia, Syahlina Zuhal, mengatakan penyakit jantung merupakan pembunuh utama di dunia dan Indonesia. Ia berharap pada 2025 kematian dini akibat penyakit jantung bisa berkurang. Di Asia Tenggara setidaknya ada 1,8 juta kematian akibat penyakit jantung pada 2014. “Ini bukan masalah enteng, jangan bersikap abai,” ujarnya memberi saran.

Penderita penyakit jantung wajib menjalankan pola hidup sehat baik yang sudah pernah mengalami serangan jantung maupun yang berisiko. Makanan dan aktivitas fisik sangat penting diperhatikan oleh penderita penyakit jantung. Selain itu, mereka harus menjaga mood tetap stabil dan menghindari depresi yang bisa memperburuk kondisi.

***
Diet yang Tepat

Untuk pasien penyakit jantung, pola makan yang tepat sangat penting. Bersama gaya hidup lainnya, diet bisa memperlambat progresivitas penyakit jantung dan mencegah komplikasi fatal. “Diet yang dianjurkan bagi penderita penyakit jantung bukan sekadar diet rendah kolesterol, melainkan juga diet yang bisa mengendalikan tekanan darah, gula darah, serta mempertahankan atau membantu menurunkan berat badan bila kegemukan,” ujar medical nutrition advisor PT Quaker Indonesia, dr Elia Indrianingsih SpGK.

Salah satu diet sehat untuk jantung adalah mengonsumsi makanan rendah lemak jenuh dan lemak trans, rendah kolesterol, kaya omega-3 serta kaya akan serat pangan, termasuk serat larut beta glucan. Penelitian menunjukkan, asupan tiga gram beta glucan setiap hari dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah dan membantu menurunkan risiko penyakit jantung.

Serat larut beta glucan juga dapat membantu mengatur kadar gula darah. Sumber-sumber lain dari serat larut selain oat adalah kacang-kacangan dan kacang polong kering, psyllium, apel, jeruk, pir, stroberi, blueberry, bijirami, mentimun, seledri, dan wortel.

Oleh Qommaria Rostanti

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/medika/15/03/02/nkkosb31-kesehatan-gigi-pengaruhi-prestasi-belajar-anak